Tuesday, May 9, 2017

KULINER SOLO

Indonesia merupakan negara dengan kekayaan kuliner luar biasa di dalamnya. Keberagaman daerah turut mempengaruhi cita rasa di dalamnya. Beberapa waktu yang lalu, saya dan teman - teman menyempatkan diri mengunjungi salah satu kota di Jawa Tengah yang sangat terkenal akan budaya dan kulinernya, Solo. Saya bersama teman-teman berkunjung ke tempat ini dalam rangka mengikuti seminar kegawatdaruratan. Seminar bertajuk kuliner.

Memang layak adanya jika Solo dinobatkan menjadi salah satu tempat wisata kuliner yang wajib dimasukkan dalam daftar tempat kuliner enak di Indonesia, mulai dari makanan ringan hingga berat semua terasa lezat.

1. PECEL SOLO
Pecel Solo Beras Merah
Garang Asem



 2.TAHU KUPAT TELUR SIDOMAMPIR
  

 3. TENGKLENG

 4. NASI LIWET BU WONGSO LEMU



5. FOOD STREET PASAR GEDHE


 6. SHI JACK

7. SOTO AYAM GADING

 8. RUMAH MAKAN MASUK



 9. SATE KAMBING MBOK GALAK


10. TIMLO SOLO SASTRO

 11. NINI TOWONG


 13. SERABI NOTOSUMAN

 14. ORION








Jadwal Imunisasi Anak - IDAI

Hai mommy-mommy sekalian. Sudahkah Anda membawa anak Anda untuk imunisasi? Imunisasi sangat penting lohh. Sudahkah anak Anda diberi imunisasi?

Imunisasi atau pemberian vaksin merupakan upaya untuk meningkatkan kekebalan terhadap suatu penyakit. Imunisasi wajib diberikan pada anak dan merupakan hak anak. Penyelenggaraan imunisasi telah diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 42 tahun 2013.

imunisasi telah berhasil mencegah kematian sekitar 2-3 juta anak setiap tahun. Imunisasi terbukti membuat Indonesia bebas polio yang ditandai dengan dikeluarkannya sertifikat bebas polio dari WHO pada 27 Maret 2014.Kemudian, terjadi penurunan lebih dari 90 persen angka kesakitan dan kematian akibat penyakit difteri, pertusis atau batuk 100 hari, tetanus, hingga campak, dibandingkan 20 tahun lalu.

Saat ini ada tujuh jenis vaksin yang termasuk program imunisasi yang diberikan gratis oleh pemerintah. Vaksin itu untuk mencegah hepatitis B, polio, campak, tetanus, pertusis , difteri, dan vaksin haemophilus influenza type B untuk mencegah pneumonia dan meningitis. 

Yuk, cek jadwal pemberiannya lewat tabel berikut :



Sumber gambar : IDAI

Sunday, February 19, 2017

Kejang Demam : Beware!

kejang demam
Siapakah yang tidak akan panik ketika mendapatkan anaknya kaku kelonjotan, kejang-kejang, hingga mata mendelik-delik ketika sedang menderita demam? Kejang demam memang menjadi hal yang ditakutkan oleh orang tua. Normalkah anak saya demam hingga kejang?

Apakah sebenarnya kejang demam itu?

Kejang demam adalah kejang yang terjadi pada kenaikan suhu tubuh 38 derajat Celsius atau lebih yang disebabkan proses di luar otak. Sebagian besar kejang demam terjadi pada usia 6 bulan sampai 5 tahun. Ciri khas kejang demam adalah demamnya mendahului kejang, pada saat kejang anak masih demam, dan setelah kejang anak langsung sadar kembali.

Apa penyebab kejang demam?

Penyebab kejang demam adalah demam yang terjadi secara mendadak. Demam dapat disebabkan infeksi bakteri atau virus, misalnya infeksi saluran napas atas. Tidak diketahui secara pasti mengapa demam dapat menyebabkan kejang pada satu anak dan tidak pada anak lainnya, namun diduga ada faktor genetik yang berperan. Setiap anak juga memiliki suhu ambang kejang yang berbeda: ada yang kejang pada suhu 38 derajat Celsius, ada pula yang baru mengalami kejang pada suhu 40 derajat Celsius. 

Apa yang terjadi bila anak kejang?

Sebagian besar kejang demam merupakan kejang umum. Bentuk kejang umum yang sering dijumpai adalah mata mendelik atau terkadang berkedip-kedip, kedua tangan dan kaki kaku, terkadang diikuti kelojotan, dan saat kejang anak tidak sadar tidak memberi respons apabila dipanggil atau diperintah. Setelah kejang anak sadar kembali. Umumnya kejang demam akan berhenti sendiri dalam waktu kurang dari 5 menit dan tidak berulang lebih dari satu kali dalam 24 jam.

Apa yang harus dilakukan bila anak kejang?
Bila melihat anak kejang, usahakan untuk tetap tenang dan lakukan hal-hal berikut:
  1. Letakkan anak di tempat yang aman, jauhkan dari benda-benda berbahaya seperti listrik dan pecah-belah.
  2. Baringkan anak dalam posisi miring agar makanan, minuman, muntahan, atau benda lain yang ada dalam mulut akan keluar sehingga anak terhindar dari bahaya tersedak.
  3. Jangan memasukkan benda apapun ke dalam mulut. Memasukkan sendok, kayu, jari orangtua, atau benda lainnya ke dalam mulut, atau memberi minum anak yang sedang kejang, berisiko menyebabkan sumbatan jalan napas apabila luka
  4. Jangan berusaha menahan gerakan anak atau menghentikan kejang dengan paksa, karena dapat menyebabkan patah tulang.
  5. Amati apa yang terjadi saat anak kejang, karena ini dapat menjadi informasi berharga bagi dokter. Tunggu sampai kejang berhenti, kemudian bawa anak ke unit gawat darurat terdekat.
  6. Apabila anak sudah pernah kejang demam sebelumnya, dokter mungkin akan membekali orangtua dengan obat kejang yang dapat diberikan melalui dubur. Setelah melakukan langkah-langkah pertolongan pertama di atas, obat tersebut dapat diberikan sesuai instruksi dokter.

 

Bagaimana cara mencegah kejang demam?

Pencegahan kejang demam yang pertama tentu dengan usaha menurunkan suhu tubuh apabila anak demam. Hal ini dapat dilakukan dengan memberikan obat penurun panas, misalnya parasetamol atau ibuprofen. Hindari obat dengan bahan aktif asam asetilsalisilat, karena obat tersebut dapat menyebabkan efek samping serius pada anak. Pemberian kompres air hangat (bukan dingin) pada dahi, ketiak, dan lipatan siku juga dapat membantu.
Sebaiknya orangtua memiliki termometer di rumah dan mengukur suhu anak saat sedang demam. Pengukuran suhu berguna untuk menentukan apakah anak benar mengalami demam dan pada suhu berapa kejang demam timbul.
Pengobatan jangka panjang hanya diberikan pada sebagian kecil kejang demam dengan kondisi tertentu.

 

Apakah kejang demam membuat anak menjadi bodoh atau menderita epilepsi di kemudian hari?

Kejang demam tidak berpengaruh terhadap perkembangan atau kecerdasan anak. Biasanya kejang demam menghilang dengan sendirinya setelah anak berusia 5-6 tahun. Sebagian besar anak yang pernah mengalami kejang demam akan tumbuh dan berkembang secara normal tanpa adanya kelainan. Epilepsi terjadi pada kurang dari 5 persen anak kejang demam, dan biasanya pada anak-anak ini terdapat faktor risiko lain. Oleh karena itu, sebagian besar anak dengan kejang demam tidak memerlukan bermacam pemeriksaan seperti rekam otak atau elektroensefalografi (EEG) atau CT scan.

 

Kapan orangtua perlu khawatir?

Tidak semua kejang yang disertai demam adalah kejang demam. Apabila terjadi kejang disertai demam di luar rentang usia 6 bulan sampai 5 tahun, maka perlu disingkirkan penyebab kejang lainnya, misalnya epilepsi atau radang otak. Jika sesudah kejang anak tidak segera sadar kembali, lebih banyak tidur, atau tidak dapat mengadakan kontak dengan baik, dokter akan melakukan pemeriksaan penunjang untuk mencari penyebab kejang lain, terutama radang selaput otak (meningitis) atau radang otak (ensefalitis). Evaluasi lebih lanjut juga diperlukan apabila anak pernah kejang tanpa demam.
Walau tampak menakutkan, umumnya kejang demam tidak berbahaya, tidak merusak otak, tidak mengganggu kecerdasan anak, dan akan menghilang sendiri seiring bertambahnya usia. Dengan demikian, ayah bunda tidak perlu terlalu khawatir apabila buah hatinya mengalami kejang demam.
Sumber : IDAI (Amanda Soebadi)

SOLO TRIP


Tuesday, August 30, 2016

Pasien menunggu, Kamar mandi saksi bisu

Sungguh bahagianya ketika kita bisa melakukan pekerjaan kita yang merupakan kesenangan kita. Dulu, ketika kecil, sering mendengar ucapan, "enak ya jadi artis, nyanyi kan hobinya, sudah seneng bisa melakukan hobbynya eh dibayar pula". Memang benar ungkapan tersebut, ketika kita melakukan suatu pekerjaan atas dasar kesenangan kita, semua terasa membahagiakan. Tak peduli betapa lelahnya jiwa dan raga ini.
Bergaya di depan puskesmas tercinta
Hari ini, jatah saya bertugas menjaga UGD, Teman - teman dan perawat menjuluki saya si tukang pembawa pasien gawat. Kasihan juga ya mereka yang menemani saya jaga, jadi kena getahnya. Ahhh tapi sepertinya hal itu tidak benar, kebetulan saja, tuhh buktinya hari ini semua aman damai tentram sentosa. ------saat itu ujarku-------. Pulang ahhh, mandi - mandi, sudah gerah semua ini badan, terasa lengket. Ku melangkah kan kakiku dengan riang gembira keluar dari puskesmas menyusuri jalanan. Ku sapa tetangga- tetangga yang berpapasan denganku dengan hati yang riang. Ahhh akhirnya malam ini bisa bersantai - santai ria tanpa memikirkan pasien.

Kubersenandung lirih menyiapkan peralatan mandi, kuberlari - lari kecil menyusuri pintu kamar mandi. Keramas gaa yaa keramas ga yaaa? tanyaku dalam hati saat itu. Ahh keramas saja lah, toh malam ini bakal terasa panjang karena semua pasien aman dan tidak ada satu pun yang membutuhkan observasi berarti...

Baru kuguyur rambut iniii hingga basah untuk memulai proses keramas, sambil bersenandung lirih, tiba-tiba, tok tokkk, " dokterrr dokterrr.. sudah di tunggu di puskesmas,,, ada pasien.. ada polisi juga.. ayo dokter..." Eaaaaaaaaaaaaaaa... rambut sudah terlanjur basah...

Belum sempat mandi, kukenakan kembali pakaianku yang kotor itu, cepat cepat kuberusaha mengeringkan rambut tebal ini.. sudah berusaha secepat mungkin, dipanggil lagi oleh perawat," dokter dokterrr.. belum kah? ayo dokter.."

kuberlari sambil rambut masih basah terkocar - kacir... Sungguh menggelikaaan, jika kapan hari hanya didatangi perawat ke tempat peristirahatan saya karena ada pasien melahirkan malam hari, kali ini hingga didatangi dan ditungguin di depan pintu kamar mandiii.... sungguh menggelikan... hehehe..
 Walaupun setelahnya saya dibuat kepikiran terus sepanjang malam tentang pasien saya tersebut, bahkan waktu mandi saya pun jadi terganggu, saya sungguh menikmatii peran saya sebagai dokter. Saya sungguh bahagia ketika bisa menolong pasien.

Lebih Dekat Mengenal Diare Pada Anak



1.      Pengertian
            Diare adalah kehilangan cairan dan elektrolit secara buang air besar dengan bentuk tinja yang encer atau cair. Diare adalah defekasi lebih dari 3x sehari dengan atau tanpa darah atau lendir. Diare adalah suatu peningkatan frekuensi, keenceran dan volume tinja serta diduga selama 3 tahun pertama kehidupan, seorang anak akan mengalami 1 – 3x episode akut diare berat.


2.  Faktor Penyebab Diare

 Adapun faktor penyebab diare dibagi menjadi 4 yakni :
a. Faktor Infeksi :
  -  Infeksi eksternal adalah infeksi saluran pencernaan makanan ( Bakteri, virus, parasit )
 - Infeksi parenteral adalah infeksi di luar alat pencernaan makanan (Tonsilitis, Bronkopneumoni
b. Faktor Makanan ( Makanan beracun, intoleransi makanan, kadaluarsa)
c. Faktor Malabsorbsi : Malabsorbsi karbohidrat, lemak, dan protein
d. Faktor Psikologis : Rasa takut dan cemas


6.      Cara penularan
Kuman penyakit diare ditularkan melalui fecal– oral antara lain melalui makanan dan minuman yang tercemar tinja dan kontak langsung dengan tinja penderit

7.      Pencegahan diare
Pencegahan diare dapat dilakukan dengan memberikan ASI, memperbaiki makanan pendamping ASI, membuang sampah pada tempatnya atau menjaga kebersihan lingkungan, menggunakan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari, mencuci tangan sebelum makan,menutup makanan atau menjaga kebersihan makanan, menggunakan jamban, membuang tinja anak pada tempat yang tepat




Tuesday, August 23, 2016

Antibiotika bukan "Welcoming drink"


....Tidak semua penyakit membutuhkan Antibiotika....

"If we are not careful, we will soon be in a post-antibiotic-era.. And for some patients and some microbes, we are alreaady there."

" Selamat Pagi, Bu. Hai adik kecil. Mari silakan duduk.". " Ada yang bisa dibantu?"
"Ini dokter, anak saya diare"
"Sejak kapan, Bu?". "Sejak kemarin dokter"
"Berapa kali diarenya, Bu? Bagaimana kondisi diarenya apakah ada lendir maupun darah?"
"3 kali, dok. Tidak ada dok, diarenya ya cair isi air begitu"
............. singkat cerita ...........
Setelah melakukan penggalian anamnesa dan pemeriksaan fisik, 
" Mari silakan duduk kembali". " Kalau boleh tahu sebelumnya apakah sudah sempat diobati di rumah?" " Sudah dokter "
" Oh ya? Ibu obatin apa bu?"
" Saya beri super***** dokter, dan ina***"
"Wah, bagaimana ceritanya ibu bisa mendapatkan obat tersebut?"
"Ya beli di apotek, dokter, tetangga-tetangga banyak yang bilang, kasi ini saja, jadi saya ya sedia banyak di rumah, tiap ada yang sakit saya berikan obat tersebut"

Seketika, saya merasa sedih dan miris. Sebagai tenaga kesehatan, saya merasa tertantang oleh fenomena - fenomena seperti ini. Masalahnya, tidak hanya sesekali saja saya menjumpai pasien tersebut. Padahal, untuk kasus di atas, setelah melakukan anamnesa dan pemeriksaan fisik, pasien anak tersebut menderita diare akut dehidrasi ringan yang disebabkan oleh virus, di mana terapi utamanya adalah rehidrasi dan sama sekali bukan merupakan indikasi pemberian antibiotika. Selain itu, pada anak- anak < 12 tahun sangat disarankan untuk tidak menggunakan loperamide sebagai penanganan pada diare anak karena loperamide pada dosis yang tidak sesuai dapat mengganggu motilitas usus sehingga dapat menyebabkan ileus paralitik pada pasien yang sangat fatal akibatnya. 

Tidak semua penyakit butuh antibiotik
Sebagaimana kita ketahui, WHO telah menetapkan Antimicrobacterial Resistance and its Global Spread sebagai upaya pencegahan resistensi Antibiotika. Tentunya saya tidak bisa membayangkan bagaimana seandainya kita terjatuh dalam era post-antibiotika. Antibiotika merupakan obat yang dapat sangat membantu bagi pasien - pasien (saya juga sangat bersyukur banyak orang pintar di belahan bumi ini yang bisa meneliti dan menciptakan berbagai ramuan antibiotika), tetapi bukan berarti semua penyakit membutuhkan antibiotika.

Berikut ini merupakan contoh beberapa kondisi umum terjadi yang TIDAK membutuhkan pemberian antibiotika :
  1. Diare atau gangguan pencernaan yang disebabkan oleh virus / intoleransi makanan, dan bukan disebabkan oleh bakteri. Panas yang terjadi saat diare, bisa disebabkan akibat tubuh dehidrasi sehingga panas tersebut sebagai upaya tubuh untuk mengompensasi dirinya.
  2. Bapilnas (Batuk, Pilek, Panas) dari gejala ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Atas) yang disebabkan oleh virus. Perubahan warna dahak atau riak atau ingus yang berubah dari bening menjadi kuning / kehijauan dan berlendir pekat tidak selalu disebabkan oleh bakteri. Gejala tersebut bisa merupakan perjalanan klinis dari infeksi saluran pernapasan atas, sehingga bukan menjadi indikasi pemberian antibiotika.
Saat Edukasi Pasien (Hanya Dokumentasi - Bukan pasien yang saya contohkan di atas)
Sebagian besar penyebab kasus penyakit rawat jalan pada anak adalah virus, yang pada umumnya merupakan penyakit "self limiting disease". Hal ini berarti penyakit dapat sembuh dengan sendirinya dalam rentang waktu sekitar 5 - 7 hari. Dengan kata lain, seharusnya kemungkinan penggunaan antibiotika yang benar tidak besar atau mungkin hanya sekitar 10 - 15% penderita anak.   Sebagian besar penyakit infeksi diare, batuk, pilek dan panas penyebabnya adalah virus.  Secara umum setiap anak akan mengalami 2 hingga 9 kali penyakit saluran napas karena virus. Sebaiknya jangan terlalu mudah mendiagnosis (overdiagnosis) sinusitis pada anak. Bila tidak terdapat komplikasi lainnya secara alamiah pilek, batuk dan pengeluaran cairan hidung akan menetap paling lama sampai 14 hari setelah gejala lainnya membaik

Sebuah penelitian terhadap gejala pada 139 penderita pilek(flu) karena virus didapatkan bahwa pemberian antibiotik pada kelompok kontrol tidak memperbaiki cairan mucopurulent dari hidung. Antibiotika tidak efektif mengobati infeksi saluran napas atas dan tidak mencegah infeksi bakteri tumpangan. Sebagian besar infeksi saluran napas atas termasuk sinus paranasalis sangat jarang sekali terjadi komplikasi bakteri. Satu hal lain yang perlu diketahui bahwa pemberian antibiotika tidak akan memperpendek perjalanan penyakit dan mencegah infeksi tumpangan bakteri sehingga penggunaan antibiotika sebagai profilaksis masih menjadi perdebatan hingga saat ini.

"The major reason we are seeing antibiotic resistance is overuse of antibiotics in the population of illnesses that don't require antibiotics - typically colds, sore throats, quote bronchitis unquote - illnesses that would resolve by themselves beacuse they are caused by viruses."
Hari kesehatan Internasional tahun 2011, WHO menetapkan tema Antimicrobacterial Resistance and its Global Spread. Senada dengan WHO Indonesia juga memilih tema yang hampir sama yaitu “Gunakan Antibiotik Secara Tepat untuk Mencegah Kekebalan Kuman”. Tema ini dipilih karena penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat membahayakan kesehatan masyarakat secara global maupun secara individu. Hal itu juga sejalan dengan salah satu tujuan kebijakan obat nasional yaitu penggunaan obat secara rasional. Setiap awal April masyarakat Internasional memperingati Hari Kesehatan Sedunia. Penetapan hari itu bersamaan dengan hari lahirnya Badan Kesehatan Sedunia (WHO) yang dibentuk pada tanggal 7 April 1948. Peringatan itu dapat digunakan momentum yang tepat mengajak masyarakat dunia untuk meningkatkan kepedulian dalam ikut meningkatkan derajat kesehatan dan kesejahteraan masyarakat dunia secara optimal. Tema penggunaan obat rasional itu dIpakai karena permasalahan penggunaan obat irasional di dunia cukup mengkawatirkan. Lebih dari 50 persen obat-obatan diresepkan, diberikan atau dijual tidak semestinya. Sehingga sebagian besar pasien gagal mengkonsumsi obat secara tepat. Bahkan WHO melaporkan setiap tahun 150 ribu orang meninggal karena pemakaian obat tidak rasional. Penggunaan obat tidak rasional atau berlebihan akan berdampak buruk pada kesehatan manusia. Lebih dari 50 persen negara di dunia tidak menerapkan kebijakan dasar untuk mempromosikan penggunaan obat secara rasional (POR). Di negara-negara berkembang, kurang dari 40 persen pasien di sektor publik dan 30 persen di sektor swasta diberikan perawatan sesuai panduan klinis. Penggunaan obat yang tidak rasional terjadi di seluruh dunia. Ditandai, penggunaan obat terlalu banyak atau tidak sesuai dosis dan lama konsumsi tidak tepat, peresepan obat tidak sesuai diagnosis serta pengobatan sendiri dengan obat yang seharusnya dengan resep dokter. Penggunaan obat secara rasional (POR) yaitu pasien mendapatkan pengobatan sesuai kebutuhan klinisnya, dalam dosis yang tepat bagi kebutuhan individualnya untuk waktu yang cukup dan biaya yang terjangkau bagi diri dan komunitasnya. Jadi POR memiliki empat aspek yaitu pengobatan tepat, dosis tepat, lama penggunaan yang tepat serta biaya yang tepat. Pemberian antibiotika berlebihan pada anak tampaknya memang semakin meningkat dan semakin mengkawatirkan.. Pemberian antibiotika berlebihan atau pemberian irasional artinya penggunaan tidak benar, tidak tepat dan tidak sesuai dengan indikasi penyakitnya. Sebenarnya permasalahan ini dahulu juga dihadapi oleh negara maju seperti Amerika Serikat. Menurut penelitian US National Ambulatory Medical Care Survey, pada tahun 1989, setiap tahun sekitar 84% setiap tahun setiap anak mendapatkan antibiotika. Hasil lainnya didapatkan 47,9% resep pada anak usia 0-4 tahun terdapat antibiotika. Angka tersebut menurut perhitungan banyak ahli sebenarnya sudah cukup mencemaskan. Dalam tahun yang sama, juga ditemukan resistensi kuman yang cukup tinggi karena pemakaian antibiotika berlebihan tersebut. Di Indonesia Di Indonesia belum ada data resmi tentang penggunaan antibiotika. Sehingga banyak pihak saat ini tidak khawatir dan sepertinya tidak bermasalah. Tetapi berdasarkan tingkat pendidikan atau pengetahuan masyarakat serta fakta yang ditemui sehari-hari, tampaknya pemakaian antibiotika di Indonesia jauh banyak dan lebih mencemaskan dan secara tidak langsung mencegah tubuh kita agar tidak terinfeksi bakteri jahat. Indikasi yang tepat dan benar dalam pemberian antibiotika pada anak adalah bila penyebab infeksi tersebut adalah bakteri. Menurut CDC (Centers for Disease Control and Prevention) indikasi pemberian antibiotika adalah bila batuk dan pilek yang berkelanjutan selama lebih 10 – 14 hari.yang terjadi sepanjang hari (bukan hanya pada malam hari dan pagi hari). Batuk malam dan pagi hari biasanya berkaitan dengan alergi atau bukan lagi dalam fase infeksi dan tidak perlu antibiotika Indikasi lain bila terdapat gejala infeksi sinusitis akut yang berat seperti panas > 39 C dengan cairan hidung purulen, nyeri, pembengkakan sekitar mata dan wajah. Pilihan pertama pengobatan antibiotika untuk kasus ini cukup dengan pemberian Amoxicillin, Amoxicillinm atau Clavulanate. Bila dalam 2 – 3 hari membaik pengobatan dapat dilanjutkan selama 7 hari setelah keluhan membaik atau biasanya selama 10 – 14 hari. Indikasi lainnya adalah radang tenggorokan karena infeksi kuman streptokokus. Penyakit ini pada umumnya menyerang anak berusia 7 tahun atau lebih. Pada anak usia 4 tahun hanya 15% yang mengalami radang tenggorokan karena kuman ini. Penyakit yang lain yang harus mendapatkan antibiotika adalah infeksi saluran kemih dan penyakit tifus Untuk mengetahui apakah ada infeksi bakteri biasanya dengan melakukan kultur darah atau urine. Apabila dicurigai adanya infeksi saluran kemih, dilakukan pemeriksaan kultur urine. Setelah beberapa hari akan diketahui bila ada infeksi bakteri berikut jenis dan sensitivitas terhadap antibiotika. Untuk mengetahui penyakit tifus harus dilakukan pemeriksaan darah Widal dan kultur darah gal. Anak usia di bawah 5 tahun yang mengalami infeksi virus sering mengalami overdiagnosis penyakit Tifus. Sering terjadi kesalahan persepsi dalam pembacaan hasil laboratorium karena spesifitas tes Widal tidak terlalu baik. Sebagian besar kasus penyakit pada anak yang berobat jalan penyebabnya adalah virus. Dengan kata lain seharusnya kemungkinan penggunaan antibiotika yang benar tidak besar atau mungkin hanya sekitar 10 – 15% penderita anak. Penyakit virus adalah penyakit yang termasuk “self limiting disease” atau penyakit yang sembuh sendiri dalam waktu 5 – 7 hari. Sebagian besar penyakit infeksi diare, batuk, pilek dan panas penyebabnya adalah virus. Secara umum setiap anak akan mengalami 2 hingga 9 kali penyakit saluran napas karena virus. Sebaiknya jangan terlalu mudah mendiagnosis (overdiagnosis) sinusitis pada anak. Bila tidak terdapat komplikasi lainnya secara alamiah pilek, batuk dan pengeluaran cairan hidung akan menetap paling lama sampai 14 hari setelah gejala lainnya membaik Sebuah penelitian terhadap gejala pada 139 penderita pilek(flu) karena virus didapatkan bahwa pemberian antibiotik pada kelompok kontrol tidak memperbaiki cairan mucopurulent dari hidung. Antibiotika tidak efektif mengobati Infeksi saluran napas Atas dan tidak mencegah infeksi bakteri tumpangan. Sebagian besar infeksi Saluran napas Atas termasuk sinus paranasalis sangat jarang sekali terjadi komplikasi bakteri. Di Amerika Serikat, karena upaya kampanye dan pendidikan terus menerus terhadap masyarakat dan dokter ternyata dapat menurunkan penggunaan antibiotika secara drastis. Proporsi anak usia 0 – 4 tahun yang mendapatkan antibiotika menuirun dari 47,9% tahun 1996 menjadi 38,1% tahun 2000. Jumlah rata-rata antibiotika yang diresepkan menurun, dari 47.9 1.42 peresepan per anak tahun 1996 menjadi 0.78 peresepan per anak tahun 2000. Rata-rata pengeluaran biaya juga dapat ditekan cukup banyak, padfa tahun 1996 sebesar $31.45 US menjadi $21.04 per anak tahun 2000. Dampak Pemberian Berlebihan Pemberian antibiotika yang berlebihan dan tidak terkendali saat ini membuahkan akibatnya. Beberapa ahli kesehatan di penjuru dunia mulai menemukan sebuah bakteri superbug atau bakteri yang kebal terhadap antibiotika. Berbeda dengan berbagai temuan berbagai virus baru ganas seperti flu burung, SARS atau flu babi yang dapat sembuh sendiri tanpa diobati. Bakteri ganas ini bila menjangkiti seseorang, maka orang tersebut akan terancam nyawanya tanpa ada obat atau antibiotika yang melawannya. Bakteri “super” atau superbug yang bernama NDM-1 (New Delhi Metallo-beta-laktamase-1) ini telah muncul di India, Pakistan, Inggris, Amerika dan berbagai belahan dunia lainnya. Bakteri ini juga telah menyebar di rumah sakit di Inggris, para ahli kesehatan dunia memperingatkan bakteri “super” ini bisa menjadi masalah besar di seluruh dunia. Para ilmuwan takut bakteri bernama NDM-1 (New Delhi Metallo-beta-laktamase-1) bisa masuk dengan mudah di dalam bakteri seperti E.coli. Bila sampai terjadi bakteri ini bisa menyebar dengan cepat dan hampir mustahil untuk bisa diobati. Sebab,menurut para ilmuwan NDM-1 bisa mengubah bakteri, menjadi kebal terhadap antibiotik yang paling kuat saat ini yaitu carbapenems. “Ada sejumlah kasus di Inggris, namun sejauh ini sejumlah besar kasus tampaknya terkait dengan perjalanan dan perawatan rumah sakit di India,” kata Dr David Livermore, peneliti Inggris Health Protection Agency kepada BBC. ”Jenis resistensi ini telah menyebar sangat luas di sana.” Di Amerika Serikat kasus NDM-1 juga telah diidentifikasi antara bulan Januari dan Juni lalu, Wall Street Journal menuliskan soal ini. Para ahli di Amerika di CDC memperkirakan bahwa hampir 100.000 orang meninggal akibat bakteri superbug di seluruh rumah sakit setiap tahun. Hampir 1.700.000 pasien di rumah sakit terjangkit infeksi yang tidak ada obatnya ini. Pada tahun 2007, sembilan atlet dari Iona College di New York terkena Methicillin-resistant Staphylococcus aureus atau MRSA, infeksi yang masuk dalam keluarga stafilokokus ini ternyata sudah termasuk dalam bakteri superbugs. Penyakit menular seksual kencing nanah atau Gonore adalah penyakit yang potensial juga terkena bakteri super ini. Hal ini terjadi karena mudahnya penularan melalui hubungan seksual dan penggunaan obat yang berlebihan dan tidak terkendali. Saat ini banyak kasus yang mulai ditemukan penyakit itu sudah resisten terhadap antibiotika biasa dan harus menggunakan antibiotik kelas berat. Bila gonore akan berubah menjadi super bakteri maka akan sangat mencemaskan dunia. Bila hal ini terjadi maka nantinya bisa saja penyakit kencing nanah atau gonore ini bisa menjadi penyakit seberbahaya HIV atau AIDS.  New Delhi Metallo-beta-laktamase, atau NDM-1 adalah sebuah enzim yang jika ditemukan dalam bakteri umum seperti E. coli, Salmonella dan K. pneumonia dapat menjadi sangat berbahaya. Bakteri ini adalah yang paling resisten terhadap antibiotik. NDM-1 ini merupakan ancaman, sangat serius bagi umat manusia di dunia. Keadaan ini secara pasti akan mengancam nyawa jutaan umat manusia bila tidak ditemukan antibiotika untuk menangkalnya. Sebuah jalan terakhir dan juga harapan terakhir untuk mengatasinya ada pada antibiotik, carbapenem. Sayangnya hingga saat ini bakteri superbug NDM-1 ini benar-benar resisten terhadap antibiotik secanggih carbapenem. Hal itu membuat ilmuwan jadi kelabakan dan terus mengadakan penelitian guna melawan bakteri ganas tanpa obat ini Kampanye Rekomendasi dan kampanye penyuluhan ke orangtua dan dokter di Amerika Serikat yang telah dilakukan oleh kerjasama CDC (Centers for Disease Control and Prevention) dan AAP (American Academy of Pediatrics) memberikan pengertian yang benar tentang penggunaan antibiotika. Kampanye ini sudah dilakukan di Amerika Serikat sepuluh tahun yang lalu, Pilek, panas dan batuk adalah gejala dari Infeksi Saluran Pernapasan Atas yang disebabkan virus. Perubahan warna dahak dan ingus berubah menjadi kental kuning, berlendir dan kehijauan adalah merupakan perjalanan klinis Infeksi Saluran Napas Atas karena virus, bukan merupaklan indikasi antibiotika. Pemberian antibiotika tidak akan memperpendek perjalanan penyakit dan mencegah infeksi tumpangan bakteri. Upaya ini seharusnya menjadi contoh yang baik terhadap intitusi yang berwenang di Indonesia dalam mengatasi permasalahan pemberian antibiotika ini. Melihat rumitnya permasalahan pemberian antibiotika yang irasional di Indonesia tampaknya sangat sulit dipecahkan. Tetapi kita harus yakin dengan kemauan keras, niat yang tulus dan keterlibatan semua pihak maka permasalahan ini dapat diatasi. Jangan sampai terjadi, kita baru tersadar saat masalah sudah dalam keadaan yang sangat serius

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/sandiazyudhasmara/saatnya-dunia-sadar-bahaya-antibiotika_5500accf813311c91afa7a90
Hari kesehatan Internasional tahun 2011, WHO menetapkan tema Antimicrobacterial Resistance and its Global Spread. Senada dengan WHO Indonesia juga memilih tema yang hampir sama yaitu “Gunakan Antibiotik Secara Tepat untuk Mencegah Kekebalan Kuman”. Tema ini dipilih karena penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat membahayakan kesehatan masyarakat secara global maupun secara individu. Hal itu juga sejalan dengan salah satu tujuan kebijakan obat nasional yaitu penggunaan obat secara rasional. Setiap awal April masyarakat Internasional memperingati Hari Kesehatan Sedunia. Penetapan hari itu bersamaan dengan hari lahirnya Badan Kesehatan Sedunia (WHO) yang dibentuk pada tanggal 7 April 1948. Peringatan itu dapat digunakan momentum yang tepat mengajak masyarakat dunia untuk meningkatkan kepedulian dalam ikut meningkatkan derajat kesehatan dan kesejahteraan masyarakat dunia secara optimal. Tema penggunaan obat rasional itu dIpakai karena permasalahan penggunaan obat irasional di dunia cukup mengkawatirkan. Lebih dari 50 persen obat-obatan diresepkan, diberikan atau dijual tidak semestinya. Sehingga sebagian besar pasien gagal mengkonsumsi obat secara tepat. Bahkan WHO melaporkan setiap tahun 150 ribu orang meninggal karena pemakaian obat tidak rasional. Penggunaan obat tidak rasional atau berlebihan akan berdampak buruk pada kesehatan manusia. Lebih dari 50 persen negara di dunia tidak menerapkan kebijakan dasar untuk mempromosikan penggunaan obat secara rasional (POR). Di negara-negara berkembang, kurang dari 40 persen pasien di sektor publik dan 30 persen di sektor swasta diberikan perawatan sesuai panduan klinis. Penggunaan obat yang tidak rasional terjadi di seluruh dunia. Ditandai, penggunaan obat terlalu banyak atau tidak sesuai dosis dan lama konsumsi tidak tepat, peresepan obat tidak sesuai diagnosis serta pengobatan sendiri dengan obat yang seharusnya dengan resep dokter. Penggunaan obat secara rasional (POR) yaitu pasien mendapatkan pengobatan sesuai kebutuhan klinisnya, dalam dosis yang tepat bagi kebutuhan individualnya untuk waktu yang cukup dan biaya yang terjangkau bagi diri dan komunitasnya. Jadi POR memiliki empat aspek yaitu pengobatan tepat, dosis tepat, lama penggunaan yang tepat serta biaya yang tepat. Pemberian antibiotika berlebihan pada anak tampaknya memang semakin meningkat dan semakin mengkawatirkan.. Pemberian antibiotika berlebihan atau pemberian irasional artinya penggunaan tidak benar, tidak tepat dan tidak sesuai dengan indikasi penyakitnya. Sebenarnya permasalahan ini dahulu juga dihadapi oleh negara maju seperti Amerika Serikat. Menurut penelitian US National Ambulatory Medical Care Survey, pada tahun 1989, setiap tahun sekitar 84% setiap tahun setiap anak mendapatkan antibiotika. Hasil lainnya didapatkan 47,9% resep pada anak usia 0-4 tahun terdapat antibiotika. Angka tersebut menurut perhitungan banyak ahli sebenarnya sudah cukup mencemaskan. Dalam tahun yang sama, juga ditemukan resistensi kuman yang cukup tinggi karena pemakaian antibiotika berlebihan tersebut. Di Indonesia Di Indonesia belum ada data resmi tentang penggunaan antibiotika. Sehingga banyak pihak saat ini tidak khawatir dan sepertinya tidak bermasalah. Tetapi berdasarkan tingkat pendidikan atau pengetahuan masyarakat serta fakta yang ditemui sehari-hari, tampaknya pemakaian antibiotika di Indonesia jauh banyak dan lebih mencemaskan dan secara tidak langsung mencegah tubuh kita agar tidak terinfeksi bakteri jahat. Indikasi yang tepat dan benar dalam pemberian antibiotika pada anak adalah bila penyebab infeksi tersebut adalah bakteri. Menurut CDC (Centers for Disease Control and Prevention) indikasi pemberian antibiotika adalah bila batuk dan pilek yang berkelanjutan selama lebih 10 – 14 hari.yang terjadi sepanjang hari (bukan hanya pada malam hari dan pagi hari). Batuk malam dan pagi hari biasanya berkaitan dengan alergi atau bukan lagi dalam fase infeksi dan tidak perlu antibiotika Indikasi lain bila terdapat gejala infeksi sinusitis akut yang berat seperti panas > 39 C dengan cairan hidung purulen, nyeri, pembengkakan sekitar mata dan wajah. Pilihan pertama pengobatan antibiotika untuk kasus ini cukup dengan pemberian Amoxicillin, Amoxicillinm atau Clavulanate. Bila dalam 2 – 3 hari membaik pengobatan dapat dilanjutkan selama 7 hari setelah keluhan membaik atau biasanya selama 10 – 14 hari. Indikasi lainnya adalah radang tenggorokan karena infeksi kuman streptokokus. Penyakit ini pada umumnya menyerang anak berusia 7 tahun atau lebih. Pada anak usia 4 tahun hanya 15% yang mengalami radang tenggorokan karena kuman ini. Penyakit yang lain yang harus mendapatkan antibiotika adalah infeksi saluran kemih dan penyakit tifus Untuk mengetahui apakah ada infeksi bakteri biasanya dengan melakukan kultur darah atau urine. Apabila dicurigai adanya infeksi saluran kemih, dilakukan pemeriksaan kultur urine. Setelah beberapa hari akan diketahui bila ada infeksi bakteri berikut jenis dan sensitivitas terhadap antibiotika. Untuk mengetahui penyakit tifus harus dilakukan pemeriksaan darah Widal dan kultur darah gal. Anak usia di bawah 5 tahun yang mengalami infeksi virus sering mengalami overdiagnosis penyakit Tifus. Sering terjadi kesalahan persepsi dalam pembacaan hasil laboratorium karena spesifitas tes Widal tidak terlalu baik. Sebagian besar kasus penyakit pada anak yang berobat jalan penyebabnya adalah virus. Dengan kata lain seharusnya kemungkinan penggunaan antibiotika yang benar tidak besar atau mungkin hanya sekitar 10 – 15% penderita anak. Penyakit virus adalah penyakit yang termasuk “self limiting disease” atau penyakit yang sembuh sendiri dalam waktu 5 – 7 hari. Sebagian besar penyakit infeksi diare, batuk, pilek dan panas penyebabnya adalah virus. Secara umum setiap anak akan mengalami 2 hingga 9 kali penyakit saluran napas karena virus. Sebaiknya jangan terlalu mudah mendiagnosis (overdiagnosis) sinusitis pada anak. Bila tidak terdapat komplikasi lainnya secara alamiah pilek, batuk dan pengeluaran cairan hidung akan menetap paling lama sampai 14 hari setelah gejala lainnya membaik Sebuah penelitian terhadap gejala pada 139 penderita pilek(flu) karena virus didapatkan bahwa pemberian antibiotik pada kelompok kontrol tidak memperbaiki cairan mucopurulent dari hidung. Antibiotika tidak efektif mengobati Infeksi saluran napas Atas dan tidak mencegah infeksi bakteri tumpangan. Sebagian besar infeksi Saluran napas Atas termasuk sinus paranasalis sangat jarang sekali terjadi komplikasi bakteri. Di Amerika Serikat, karena upaya kampanye dan pendidikan terus menerus terhadap masyarakat dan dokter ternyata dapat menurunkan penggunaan antibiotika secara drastis. Proporsi anak usia 0 – 4 tahun yang mendapatkan antibiotika menuirun dari 47,9% tahun 1996 menjadi 38,1% tahun 2000. Jumlah rata-rata antibiotika yang diresepkan menurun, dari 47.9 1.42 peresepan per anak tahun 1996 menjadi 0.78 peresepan per anak tahun 2000. Rata-rata pengeluaran biaya juga dapat ditekan cukup banyak, padfa tahun 1996 sebesar $31.45 US menjadi $21.04 per anak tahun 2000. Dampak Pemberian Berlebihan Pemberian antibiotika yang berlebihan dan tidak terkendali saat ini membuahkan akibatnya. Beberapa ahli kesehatan di penjuru dunia mulai menemukan sebuah bakteri superbug atau bakteri yang kebal terhadap antibiotika. Berbeda dengan berbagai temuan berbagai virus baru ganas seperti flu burung, SARS atau flu babi yang dapat sembuh sendiri tanpa diobati. Bakteri ganas ini bila menjangkiti seseorang, maka orang tersebut akan terancam nyawanya tanpa ada obat atau antibiotika yang melawannya. Bakteri “super” atau superbug yang bernama NDM-1 (New Delhi Metallo-beta-laktamase-1) ini telah muncul di India, Pakistan, Inggris, Amerika dan berbagai belahan dunia lainnya. Bakteri ini juga telah menyebar di rumah sakit di Inggris, para ahli kesehatan dunia memperingatkan bakteri “super” ini bisa menjadi masalah besar di seluruh dunia. Para ilmuwan takut bakteri bernama NDM-1 (New Delhi Metallo-beta-laktamase-1) bisa masuk dengan mudah di dalam bakteri seperti E.coli. Bila sampai terjadi bakteri ini bisa menyebar dengan cepat dan hampir mustahil untuk bisa diobati. Sebab,menurut para ilmuwan NDM-1 bisa mengubah bakteri, menjadi kebal terhadap antibiotik yang paling kuat saat ini yaitu carbapenems. “Ada sejumlah kasus di Inggris, namun sejauh ini sejumlah besar kasus tampaknya terkait dengan perjalanan dan perawatan rumah sakit di India,” kata Dr David Livermore, peneliti Inggris Health Protection Agency kepada BBC. ”Jenis resistensi ini telah menyebar sangat luas di sana.” Di Amerika Serikat kasus NDM-1 juga telah diidentifikasi antara bulan Januari dan Juni lalu, Wall Street Journal menuliskan soal ini. Para ahli di Amerika di CDC memperkirakan bahwa hampir 100.000 orang meninggal akibat bakteri superbug di seluruh rumah sakit setiap tahun. Hampir 1.700.000 pasien di rumah sakit terjangkit infeksi yang tidak ada obatnya ini. Pada tahun 2007, sembilan atlet dari Iona College di New York terkena Methicillin-resistant Staphylococcus aureus atau MRSA, infeksi yang masuk dalam keluarga stafilokokus ini ternyata sudah termasuk dalam bakteri superbugs. Penyakit menular seksual kencing nanah atau Gonore adalah penyakit yang potensial juga terkena bakteri super ini. Hal ini terjadi karena mudahnya penularan melalui hubungan seksual dan penggunaan obat yang berlebihan dan tidak terkendali. Saat ini banyak kasus yang mulai ditemukan penyakit itu sudah resisten terhadap antibiotika biasa dan harus menggunakan antibiotik kelas berat. Bila gonore akan berubah menjadi super bakteri maka akan sangat mencemaskan dunia. Bila hal ini terjadi maka nantinya bisa saja penyakit kencing nanah atau gonore ini bisa menjadi penyakit seberbahaya HIV atau AIDS.  New Delhi Metallo-beta-laktamase, atau NDM-1 adalah sebuah enzim yang jika ditemukan dalam bakteri umum seperti E. coli, Salmonella dan K. pneumonia dapat menjadi sangat berbahaya. Bakteri ini adalah yang paling resisten terhadap antibiotik. NDM-1 ini merupakan ancaman, sangat serius bagi umat manusia di dunia. Keadaan ini secara pasti akan mengancam nyawa jutaan umat manusia bila tidak ditemukan antibiotika untuk menangkalnya. Sebuah jalan terakhir dan juga harapan terakhir untuk mengatasinya ada pada antibiotik, carbapenem. Sayangnya hingga saat ini bakteri superbug NDM-1 ini benar-benar resisten terhadap antibiotik secanggih carbapenem. Hal itu membuat ilmuwan jadi kelabakan dan terus mengadakan penelitian guna melawan bakteri ganas tanpa obat ini Kampanye Rekomendasi dan kampanye penyuluhan ke orangtua dan dokter di Amerika Serikat yang telah dilakukan oleh kerjasama CDC (Centers for Disease Control and Prevention) dan AAP (American Academy of Pediatrics) memberikan pengertian yang benar tentang penggunaan antibiotika. Kampanye ini sudah dilakukan di Amerika Serikat sepuluh tahun yang lalu, Pilek, panas dan batuk adalah gejala dari Infeksi Saluran Pernapasan Atas yang disebabkan virus. Perubahan warna dahak dan ingus berubah menjadi kental kuning, berlendir dan kehijauan adalah merupakan perjalanan klinis Infeksi Saluran Napas Atas karena virus, bukan merupaklan indikasi antibiotika. Pemberian antibiotika tidak akan memperpendek perjalanan penyakit dan mencegah infeksi tumpangan bakteri. Upaya ini seharusnya menjadi contoh yang baik terhadap intitusi yang berwenang di Indonesia dalam mengatasi permasalahan pemberian antibiotika ini. Melihat rumitnya permasalahan pemberian antibiotika yang irasional di Indonesia tampaknya sangat sulit dipecahkan. Tetapi kita harus yakin dengan kemauan keras, niat yang tulus dan keterlibatan semua pihak maka permasalahan ini dapat diatasi. Jangan sampai terjadi, kita baru tersadar saat masalah sudah dalam keadaan yang sangat serius

Selengkapnya : http://www.kompasiana.com/sandiazyudhasmara/saatnya-dunia-sadar-bahaya-antibiotika_5500accf813311c91afa7a90

Sunday, April 10, 2016

HELLO....

Haiii Fellas...

Since my last post, 2014, berarti sudah hampir 2 tahun blog ini vakum. Sampai berdebu, fiuu tsyuu..
Okay, mulai sekarang, saya akan kembali mengaktifkan blog ini (semoga bukan wacana saja hehe).
Namun, setelah melalui berbagai pertimbangan masak, saya akan mengubah konten blog ini agar lebih bermanfaat bagi banyak orang. Tentuuu saja, konten yang saya pilih tidak jauh-jauh dari dunia kesehatan yaaaa.

See yaaaa on my next post!